Selamat Datang di Constantine Community

Theologi
Budaya
Pendidikan

Jumat, 22 April 2011

Batu Hobon tempat harta kekayaan orang Batak dan turun-nya si Raja Batak.

Batu Hobon tempat harta kekayaan orang Batak dan turun-nya si Raja Batak.

Juni 14, 2009
gambar batu hobon
Bersama Toba dot Com – Keindahan alam yang ditawarkan Danau Toba dan Pulau Samosir telah lama terdengar ke seantero tanah air hingga mancanegara.Namun tak banyak yang tahu tentang potensi yang dimilikinya.

Diantaranya adalah kekayaan budaya yang dapat digali dan bernilai jual lebih jika dikembangkan. Hanya saja kondisinya akhir-akhir ini semakin mengkhawatirkan, akibat pengelolaan yang tidak berpihak pada pelestarian.
Salah satu tempat yang yang ternyata menyimpan banyak cerita bersejarah adalah “Pusuk Buhit” puncak tertinggi yang terletak di Desa Limbong-Sagala, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir, berjarak sekitar 15 km dari Pangururan.
Menurut kepercayaan masyarakat Batak, pada abad XII, Pusuk Buhit dianggap sebagai tempat asal muasal seluruh Suku Batak. Dalam perkembangannya, nenek moyang Suku Batak menyebar ke delapan penjuru mata angin, yakni; Purba, Anggoni, Dangsina, Nariti, Pastia, Mangadia, Utara, Irisanna atau dari Timur higga Timur Laut (baca; hingga seluruh dunia). Berada di kawasan ini, seakan berada di sebuah tempat dan jaman yang berbeda.
Tak jauh dari tempat itu, tepatnya di kaki bukit, terdapat sebuah tempat keramat yang dianggap sakral bagi masyarakat setempat, bernama “Batu Hobon”. Disebut demikian karena bentuknya berupa batu berdiameter satu meter dengan bagian bawah berongga. Diperkirakan batu ini merupakan sebuah lorong yang mungkin saja berbentuk goa. Dulunya di tempat ini kerap diadakan upacara sakral yang masih berlanjut hingga sekarang. Upacara itu diyakini sebagai penghormatan pada roh leluhur sekaligus menerima pewahyuan dari nenek moyang, dikenal dengan sebutan “Tatea Bulan”.
Di Batu Hobon ini lah pomparan Ompu Guru Tatea Bulan pada mulanya bermukim. Diriwayatkan, Pusuk Buhit sebagai tempat turunnya Si Raja Batak yang pertama, diutus oleh Mulajadi Nabolon atau Tuhan Yang Maha Esa untuk mengusai tanah Batak.
Disanalah Raja Batak memulai kehidupannya. Dalam silsilahnya, Raja Batak memiliki dua orang anak sebagai pembawa keturunan atau marga dan menjaga martabat keluarga. Kedua putra Raja Batak itu bernama Guru Tatea Bulan dan Raja Isombaon.
Pada gilirannya, Guru Tatea Bulan memiliki lima orang putra dan lima orang putri. Kelima putranya bernama; Raja Uti (tidak memiliki keturunan), Sariburaja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Silau Raja. Dari keturunan mereka lah asal muasal semua marga-marga Batak muncul dan menyebar ke seluruh penjuru.
Konon, Batu Hobon adalah buah tangan Raja Uti untuk menyimpan harta kekayaan orang Batak, berupa benda-benda pusaka dan alat-alat musik. Diyakini pula, di dalam Batu Hobon ini tersimpan Lak-Lak (sejenis kitab) yang berisi ajaran dan nilai-nilai luhur. Berdasarkan pewahyuan yang datang pada keturunannya, diperkirakan pada suatu saat, benda-benda yang tersimpan dalam batu itu akan di keluarkan sendiri oleh Raja Uti –yang menurut kepercayaan setempat tidak pernah mati (baca: moksa)–. Dia akan tetap hidup dalam pribadi-pribadi pilihan yang tentu masih keturunannya.
Di atas Batu Hobon terdapat Sopo Guru Tatea Bulan yang dibangun tahun 1995 oleh Dewan Pengurus Pusat Punguan Pomparan Guru Tatea Bulan. Bangunan ini terdapat di Bukit Sulatti (di bawah Pusuk Buhit), dan di dalam bangunan terdapat sejumlah patung keturunan Raja Batak berikut dengan patung sejumlah kendaraan si Raja Batak dan pengawalnya. Kendaraan itu antara lain naga, gajah, singa, harimau dan kuda. Jejak sejarah di Tanah Batak itu yang sering dilupakan pemerintah.
Selain itu, di desa ini terdapat cagar budaya berupa miniatur Rumah Si Raja Batak. Dahulunya, sebutan Raja Batak ternyata bukan karena posisinya sebagai raja dan memiliki daerah pemerintahan, melainkan lebih pada penghormatan terhadap nenek moyang Suku Batak. Di perkampungan ini, ada bangunan rumah semitradisional Batak, yang merupakan rumah panggung terbuat dari kayu, tanpa paku, dilengkapi tangga, dan atap seng (baca: rumah Batak asli atapnya dari ijuk).
Gondang Saparangguan (Seperangkat Gendang Batak), Pagar (Ramuan penangkal penyakit), hujur sumba baho (tombak bertuah), piso solom Debata (pedang bertuah), pungga Haomasan (Batu Gosok Emas), tintin Sipajadi-jadi (Cincin Ajaib), tawar Sipagabang-abang, Sipagubung-ubung, Sipangolu na Mate, Siparata Naung Busuk (Obat yang mampu menghidupkan yang sudah mati, serta menyegarkan kembali yang telah busuk). Pagar, Hujur Sumba Baho, Piso Solom Debata, Pungga Haomasan, Tintin Sipanjadi-jadi dan Tawar, semua dibungkus dengan buku lak-lak atau buku Pustaha, yaitu Buku Ilmu Pengetahuan tentang kebudayaan Batak, yang di tulis dengan aksara Batak. Peti Batu tempat penyimpanan harta pusaka inilah yang disebut Batu Hobon (Peti Batu) karena Hobon artinya Peti.
Keanehannya :
gambar batu hobon dengan jarak dekatSudah tiga kali orang berusaha untuk membuka Batu Hobon ini namun ketiga-tiganya gagal, dan orang yang berusaha membuka itupun serta merta mendapat bala dan meninggal dunia.
Pertama :
Pada zaman penjajahan Belanda, ada seorang pejabat Pemerintah Belanda dari Pangururan, berusaha untuk membuka batu Hobon, dia berangkat membawa dinamit dan peralatan lain, serta beberapa orang personil. Pada saat mereka mempersiapkan alat-alat untuk meledakkan Batu Hobon itu dengan tiba-tiba datanglah hujan panas yang sangat lebat, disertai angin yang sangat kencang, serta petir dan guntur yang sambung menyambung, dan tiba-tiba mereka melihat ditempat itu ada ular yang sangat besar dan pada saat itu juga ada berkas cahaya (sinar) seperti tembakan sinar laser dari langit tepat keatas Batu Hobon itu, maka orang Belanda itu tiba-tiba pingsan, sehingga dia harus di tandu ke Pangururan, dan setelah sampai Pangururan dia pun meninggal dunia.
Kedua :
Pada masa pemberotakan PRRI, ada seorang tentara yang berusaha untuk membuka Batu Hobon ini, menembaki Batu Hobon itu dengan senapan, tetapi sampai habis persediaan pelurunya Batu Hobon itu tidak mengalami kerusakan apa-apa, bahkan si Tentara itu menjadi gila dan dia menjadi ketakutan dia berjalan sambil berputar-putar, serta menembaki sekelilingnya, walaupun peluru senapannya sudah kosong, dan tidak berapa lama, si Tentara itupun meninggal dunia.
Ketiga :
Pernah juga ada orang yang tinggalnya di daerah Sumatera Timur, berambisi untuk mengambil Harta Pusaka yang ada dalam Batu Hobon ini, sehingga mereka berangkat kesana dengan beberapa orang personil, membawa peralatan untuk membuka dan memecahkan batu. Mereka sempat membuka tutup lapisan yang paling atas, tetapi dengan tiba-tiba mereka melihat ular yang sangat besar di Batu Hobon itu sehingga mereka lari terbirit-birit dan gagallah usaha mereka untuk membuka Batu Hobon itu dan tidak berapa lama pimpinan rombongan itupun meninggal dunia dan anggota rombongan itupun banyak yang mendapat bala.
Tutup Batu Hobon yang terbuka itu, sempat mengundang keresahan bagi tokoh masyarakat Tapanuli Utara sehingga datanglah ratusan murid-murid Perguruan HKI dari Tarutung yang dipimpin oleh Bapak Mangantar Lumbantobing, untuk memasang kembali tutup Batu Hobon yang sempat terbuka itu. Pada mulanya tutup batu itu tidak dapat diangkat, walaupun telah ratusan orang sekaligus mengangkatnya, tetapi barulah setelah diadakan Upacara memohon restu penghuni alam yang ada di tempat itu yang dipimpin oleh salah seorang pengetua adat dari limbong, maka dengan mudah, tutup batu itu dapat diangkat dan dipasang kembali ketempat semula.

Silsilah dan Tarombo Batak dari Si Raja Batak

Silsilah dan Tarombo Batak dari Si Raja Batak

Bangsa Yang besar adalah bangsa yang melestarikan Kebudayaan.Berikut merupakan Silsilah/Tarombo Batak yang mungkin terlupakan seiring masuknya Budaya asing ke Bangsa Indonesia.

SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu:
1. Guru Tatea Bulan
2. Raja Isombaon

GURU TATEA BULAN
Dari istrinya yang bernama Si Boru Baso Bburning, Guru Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :
* Putra (sesuai urutan):
1. Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng), tanpa keturunan
2. Tuan Sariburaja (keturunannya Pasaribu)
3. Limbong Mulana (keturunannya Limbong).
4. Sagala Raja (keturunannya Sagala)
5. Silau Raja (keturunannnya Malau, Manik, Ambarita dan Gurning)

*Putri:
1. Si Boru Pareme (kawin dengan Tuan Sariburaja, ibotona)
2. Si Boru Anting Sabungan, kawin dengan Tuan Sorimangaraja, putra Raja Isombaon
3. Si Boru Biding Laut, (Diyakini sebagai Nyi Roro Kidul)
4. Si Boru Nan Tinjo (tidak kawin).

Tatea Bulan artinya "Tertayang Bulan" = "Tertatang Bulan". Raja Isombaon (Raja Isumbaon)

Raja Isombaon artinya raja yang disembah. Isombaon kata dasarnya somba (sembah). Semua keturunan Si Raja Bbatak dapat dibagi atas 2 golongan besar:
1. Golongan Ttatea Bulan = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan. Disebut juga golongan Hula-hula = Marga Lontung.

2. Golongan Isombaon = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki. Disebut juga Golongan Boru = Marga Sumba.

Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera Si Singamangaraja, para orangtua menyebut Sisimangaraja, artinya maha raja), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan Si Raja Batak.

PENJABARAN
* RAJA UTI

Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng). Raja Uti terkenal sakti dan serba bisa. Satu kesempatan berada berbaur dengan laki-laki, pada kesempatan lain membaur dengan peremuan, orang tua atau anak-anak. Beliau memiliki ilmu yang cukup tinggi, namun secara fisik tidak sempurna. Karena itu, dalam memimpin Tanah Batak, secara kemanusiaan Beliau memandatkan atau bersepakat dengan ponakannya/Bere Sisimangaraja, namun dalam kekuatan spiritual etap berpusat pada Raja Uti.

* SARIBURAJA
Sariburaja adalah nama putra kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis, satu peremuan satunya lagi laki-laki).

Mula-mula Sariburaja kawin dengan Nai Margiring Laut, yang melahirkan putra bernama Raja Iborboron (Borbor). Tetapi kemudian Saribu Raja mengawini adiknya, Si Boru Pareme, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest.

Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu Limbong Mulana, Sagala Rraja, dan Silau Raja, maka ketiga saudara tersebut sepakat untuk mengusir Sariburaja. Akibatnya Sariburaja mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan Si Boru Pareme yang sedang dalam keadaan hamil. Ketika Si Boru Pareme hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara, tetapi di hutan tersebut Sariburaja kebetulan bertemu dengan dia.

Sariburaja datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi "istrinya" di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan Si Boru Pareme di dalam hutan. Si Boru Pareme melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung.

Dari istrinya sang harimau, Sariburaja memperoleh seorang putra yang diberi nama Si raja babiat. Di kemudian hari Si raja babiat mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga Bayoangin.

Karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya, Sariburaja berkelana ke daeerah Angkola dan seterusnya ke Barus.

SI RAJA LONTUNG
Putra pertama dari Tuan Sariburaja. Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu:
* Putra:
1.. Tuan Situmorang, keturunannya bermarga Situmorang.
2. Sinaga raja, keturunannya bermarga Sinaga.
3. Pandiangan, keturunannya bermarga Pandiangan.
4. Toga nainggolan, keturunannya bermarga Nainggolan.
5. Simatupang, keturunannya bermarga Simatupang.
6. Aritonang, keturunannya bermarga Aritonang.
7. Siregar, keturunannya bermarga Siregar.

* Putri :
1. Si Boru Anakpandan, kawin dengan Toga Sihombing.
2. Si Boru Panggabean, kawin dengan Toga Simamora.
Karena semua putra dan putri dari Si Raja Lontung berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama Lontung Si Sia Marina, Pasia Boruna Sihombing Simamora.

Si Sia Marina = Sembilan Satu Ibu.
Dari keturunan Situmorang, lahir marga-marga cabang Lumban Pande, Lumban Nahor, Suhutnihuta, Siringoringo, Sitohang, Rumapea, Padang, Solin.

SINAGA
Dari Sinaga lahir marga-marga cabang Simanjorang, Simandalahi, Barutu.

PANDIANGAN
Lahir marga-marga cabang Samosir, Pakpahan, Gultom, Sidari, Sitinjak, Harianja.

NAINGGOLAN
Lahir marga-marga cabang Rumahombar, Parhusip, Lumban Tungkup, Lumban Siantar, Hutabalian, Lumban Raja, Pusuk, Buaton, Nahulae.

SIMATUPANG
Lahir marga-marga cabang Togatorop (Sitogatorop), Sianturi, Siburian.

ARITONANG
Lahir marga-marga cabang Ompu Sunggu, Rajagukguk, Simaremare.

SIREGAR
Llahir marga-marga cabang Silo, Dongaran, Silali, Siagian, Ritonga, Sormin.


* SI RAJA BORBOR
Putra kedua dari Tuan Sariburaja, dilahirkan oleh Nai Margiring Laut. Semua keturunannya disebut Marga Borbor.

Cucu Raja Borbor yang bernama Datu Taladibabana (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :

1. Datu Dalu (Sahangmaima).
2. Sipahutar, keturunannya bermarga Sipahutar.
3. Harahap, keturunannya bermarga Harahap.
4. Tanjung, keturunannya bermarga Tanjung.
5. Datu Pulungan, keturunannya bermarga Pulungan.
6. Simargolang, keturunannya bermarga Imargolang.

Keturunan Datu Dalu melahirkan marga-marga berikut :
1. Pasaribu, Batubara, Habeahan, Bondar, Gorat.
2. Tinendang, Tangkar.
3. Matondang.
4. Saruksuk.
5. Tarihoran.
6. Parapat.
7. Rangkuti.

Keturunan Datu Pulungan melahirkan marga-marga Lubis dan Hutasuhut.

Limbong Mulana dan marga-marga keturunannya
Limbong Mulana adalah putra ketiga dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga Limbong yang mempunyai dua orang putra, yaitu Palu Onggang, dan Langgat Limbong. Putra dari Langgat Limbong ada tiga orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga Sihole, dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga Habeahan. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu Limbong.

SAGALA RAJA
Putra keempat dari Guru Tatea Bulan. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga Sagala.

SILAU RAJA
Silau Raja adalah putra kelima dari Guru Tatea Bulan yang mempunyai empat orang putra, yaitu:
1. Malau
2. Manik
3. Ambarita
4. Gurning

Khusus sejarah atau tarombo Ambarita Raja atau Ambarita, memiliki dua putra:
I. Ambarita Lumban Pea
II. Ambarita Lumban Pining

Lumban Pea memiliki dua anak laki-laki
1. Ompu Mangomborlan
2. Ompu Bona Nihuta
Berhubung Ompu Mangomborlan tidak memiliki anak/keturunan laki-laki, maka Ambarita paling sulung hingga kini adalah turunan Ompu Bona Nihuta, yang memiliki anak laki-laki tunggal yakni Op Suhut Ni Huta. Op Suhut Nihuta juga memiliki anak laki-laki tunggal Op Tondolnihuta.

Keturunan Op Tondol Nihuta ada empat laki-laki:
1. Op Martua Boni Raja (atau Op Mamontang Laut)
2. Op Raja Marihot
3. Op Marhajang
4. Op Rajani Umbul

Selanjutnya di bawah ini hanya dapat meneruskan tarombo dari Op Mamontang Laut (karena keterbatasan data. Op Mamontang Laut menyeberang dari Ambarita di Kabupaten Toba Samosir saat ini ke Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun. Hingga tahun 2008 ini, keturunan Op Mamontang laut sudah generasi kedelapan).

Op Mamontang Laut semula menikahi Boru Sinaga, dari Parapat. Setelah sekian tahun berumah tangga, mereka tidka dikaruniai keturunan, lalu kemudian menikah lagi pada boru Sitio dari Simanindo, Samosir.

Dari perkawinan kedua, lahir tiga anak laki-laki
1. Op Sohailoan menikahi Boru Sinaga bermukim di Sihaporas Aek Batu
Keturunan Op Sohailoan saat ini antara lain Op Josep (Pak Beluana di Palembang)

2. Op Jaipul menikahi Boru Sinaga bermukin di Sihaporas Bolon
Keturunan antara lain J ambarita Bekasi, dan saya sendiri (www.domu-ambarita.blogspot.com atau domuambarita@yahoo.com)

3. Op Sugara atau Op Ni Ujung Barita menikahi Boru Sirait bermukim di Motung, Kabupaten Toba Samosir.
Keturunan Op Sugara antara lain penyanyi Iran Ambarita dan Godman Ambarita


TUAN SORIMANGARAJA
Tuan Sorimangaraja adalah putra pertama dari Raja Isombaon. Dari ketiga putra Raja Isombaon, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :
1. Si Boru Anting Malela (Nai Rasaon), putri dari Guru Tatea Bulan.
2. Si Boru Biding Laut (nai ambaton), juga putri dari Guru Tatea Bulan.
c. Si Boru Sanggul Baomasan (nai suanon).

Si Boru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu (Ompu Raja Nabolon), gelar Nai Ambaton.

Si Boru Biding Laut melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Jae (Raja Mangarerak), gelar Nai Rasaon.

Si Boru Sanggul Haomasan melahirkan putra yang bernama Tuan Sorbadibanua, gelar Nai Suanon.
Nai Ambaton (Tuan Sorba Djulu/Ompu Raja Nabolon)

Nama (gelar) putra sulung Tuan Sorimangaraja lahir dari istri pertamanya yang bernama Nai Ambaton. Nama sebenarnya adalah Ompu Raja Nabolon, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga Nai Ambaton menurut nama ibu leluhurnya.

Nai Ambaton mempunyai empat orang putra, yaitu:
1. Simbolon Tua, keturunannya bermarga Simbolon.
2. Tamba Ttua, keturunannya bermarga Tamba.
3. Saragi Tua, keturunannya bermarga Saragi.
4. Munte Tua, keturunannya bermarga Munte (Munte, Nai Munte, atau Dalimunte).
Dari keempat marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W. Hutagalung):

SIMBOLON
Lahir marga-marga Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Nahampun, Pinayungan. Juga marga-marga Berampu dan Pasi.

TAMBA
Lahir marga-marga Siallagan, Tomok, Sidabutar, Sijabat, Gusar, Siadari, Sidabolak, Rumahorbo, Napitu.

SARAGI
Lahir marga-marga Simalango, Saing, Simarmata, Nadeak, Sidabungke.

MUNTE
Lahir marga-marga Sitanggang, Manihuruk, Sidauruk, Turnip, Sitio, Sigalingging.

Keterangan lain mengatakan bahwa Nai Ambaton mempunyai dua orang putra, yaitu Simbolon Tua dan Sigalingging. Simbolon Tua mempunyai lima orang putra, yaitu Simbolon, Tamba, Saragi, Munte, dan Nahampun.

Walaupun keturunan Nai Ambaton sudah terdiri dari berpuluih-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antarsesama marga keturunan Nai Ambaton.

Catatan mengenai Ompu Bada, menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W Hutagalung, Ompu Bada tersebut adalah keturunan Nai Ambaton pada sundut kesepuluh.

Menurut keterangan dari salah seorang keturunan Ompu Bada (mpu bada) bermarga gajah, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut:
1. Ompu Bada ialah asal-usul dari marga-marga Tendang, Bunurea, Manik, Beringin, Gajah, dan Barasa.
2. Keenam marga tersebut dinamai Sienemkodin (enem = enam, kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan Empu Bada, pun dinamai Sienemkodin.
3. Ompu Bada bukan keturunan Nai Ambaton, juga bukan keturunan si raja batak dari Pusuk Buhit.
4. Lama sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit, Ompu Bada telah ada di tanah dairi. Keturunan Ompu bada merupakan ahli-ahli yang terampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.
5. Keturunan Ompu Bada menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah dairi dan tapanuli bagian barat.

NAI RASAON (RAJA MANGARERAK)
Nama (gelar) putra kedua dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri kedua tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Rasaon. Nama sebenarnya ialah Raja Mangarerak, tetapi hingga sekarang semua keturunan Raja Mangarerak lebih sering dinamai orang Nai Rasaon.

Raja Mangarerak mempunyai dua orang putra, yaitu Raja Mardopang dan Raja Mangatur. Ada empat marga pokok dari keturunan Raja Mangarerak:

Raja Mardopang
Menurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga Sitorus, Sirait, dan Butar-butar.

Raja Mangatur
Menurut nama putranya, Toga Manurung, lahir marga Manurung. Marga pane adalah marga cabang dari sitorus.

NAI SUANON (tuan sorbadibanua)
Nama (gelar) putra ketiga dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri ketiga Tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Suanon. Nama sebenarnya ialah Tuan Sorbadibanua, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai Ttuan Sorbadibanua.

Tuan Sorbadibanua, mempunyai dua orang istri dan memperoleh 8 orang putra.
Dari istri pertama (putri Sariburaja):
1. Si Bagot Ni Pohan, keturunannya bermarga Pohan.
2. Si Paet Tua.
3. Si Lahi Sabungan, keturunannya bermarga Silalahi.
4. Si Raja Oloan.
5. Si Raja Huta Lima.

Dari istri kedua (Boru Sibasopaet, putri Mojopahit) :
a. Si Raja Sumba.
b. Si Raja Sobu.
c. Toga Naipospos, keturunannya bermarga Naipospos.

Keluarga Tuan Sorbadibanua bermukim di Lobu Parserahan - Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, Tuan Sorbadibanua menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata Si Raja huta lima terkena oleh lembing Si Raja Sobu. Hal tersebut mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh Tuan Sorbadibanua. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang tiga orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki Gunung Dolok Tolong sebelah barat.

Keturunana Tuan Sorbadibanua berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini.
Keturunan Si Bagot ni pohan melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Tampubolon, Barimbing, Silaen.
2. Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol, Nasution.
3. Panjaitan, Siagian, Silitonga, Sianipar, Pardosi.
4. Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, Pardede.

Keturunan Si Paet Tua melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Hutahaean, Hutajulu, Aruan.
2. Sibarani, Sibuea, Sarumpaet.
3. Pangaribuan, Hutapea.

Keturunan si lahi sabungan melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Sihaloho.
2. Situngkir, Sipangkar, Sipayung.
3. Sirumasondi, Rumasingap, Depari.
4. Sidabutar.
5. Sidabariba, Solia.
6. Sidebang, Boliala.
7. Pintubatu, Sigiro.
8. Tambun (Tambunan), Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu, Nadapdap, Pagaraji, Sunge, Baruara, Lumban Pea, Lumban Gaol.

Keturunan Si Raja Oloan melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Naibaho, Ujung, Bintang, Manik, Angkat, Hutadiri, Sinamo, Capa.
2. Sihotang, Hasugian, Mataniari, Lingga.
3. Bangkara.
4. Sinambela, Dairi.
5. Sihite, Sileang.
6. Simanullang.

Keturunan Si Raja Huta Lima melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Maha.
2. Sambo.
3. Pardosi, Sembiring Meliala.

Keturunan Si Raja Sumba melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Simamora, Rambe, Purba, Manalu, Debataraja, Girsang, Tambak, Siboro.
2. Sihombing, Silaban, Lumban Toruan, Nababan, Hutasoit, Sitindaon, Binjori.

Keturunan Si Raja Sobu melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Sitompul.
2. Hasibuan, Hutabarat, Panggabean, Hutagalung, Hutatoruan, Simorangkir, Hutapea, Lumban Tobing, Mismis.

Keturunan Toga Naipospos melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Marbun, Lumban Batu, Banjarnahor, Lumban Gaol, Meha, Mungkur, Saraan.
2. Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang.

(Marbun marpadan dohot Sihotang, Banjar Nahor tu Manalu, Lumban Batu tu Purba, jala Lumban Gaol tu Debata Raja. Asing sian i, Toga Marbun dohot si Toga Sipaholon marpadan do tong) ima pomparan ni Naipospos, Marbun dohot Sipaholon. Termasuk do marga meha ima anak ni Ompu Toga sian Lumban Gaol Sianggasana.

***

DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI)
Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga).

Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut:

"Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang;
Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan"

artinya:

"Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput (berakar tunggang);
Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji"

Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah:
1. Marbun dengan Sihotang
2. Panjaitan dengan Manullang
3. Tampubolon dengan Sitompul.
4. Sitorus dengan Hutajulu - Hutahaean - Aruan.
5. Nahampun dengan Situmorang.
(Disadur dari buku "Kamus Budaya Batak Toba" karangan M.A. Marbun dan I.M.T. Hutapea, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, 1987)

Minggu, 27 Maret 2011

Salik, Umpama pinsang-pinsang, bura, panigati, apul apul, Paruhuman.

SALIK
  1. Ndang taruba babi so mangallang halto.
  2. Holi-holi sangkalia, tading nanioli dibahen nahinabia.
  3. Jinama tus-tus tiniop pargolangan, tuk dohonon ni munsung dang tuk gamuon ni tangan.
  4. Balik toho songon durung ni Pangururan, sianpudi pe toho asal haroro ni uang.
  5. Sanggar rikrik angkup ni sanggar lahi, dongan marmihim jala donganna martahi-tahi.
  6. Otik pe bau joring godang pe bau palia.
  7. Tinompa ni pinggan paung, molo domu songon namaung-aung, ia dung sirang songon naginaung-gaung.
  8. Madungdung bulung godang tu dangka ni bulu suraton, marunung namarroha molo adong uli buaton.
  9. Partungkot mundi-mundi, parsoban hau halak, Parroha sibuni-buni pa ago-ago halak.
  10. Ia arian martali-tali nabontar, ia borngin martali-tali narara. (ia dompak sarupa jolma ia tundal sarupa begu.)
  11. Sampilpil di pudina haramonting di jolona, sude halak magigi dibahen pangalahona.
  12. Tanduk ni lombu tanduk ni lombu silepe, molo monang marjuji sude sidok lae ia talu sude mambursik be.
  13. Najumpang gabe natinangko molo so malo, natinangko gabe najumpang molo malo.
  14. Taos rampe ni hajut, ditunjang ampapaluan, mate parjuji talu ndang adong ni andungan, andungan i annon sotung ro utang taguhan, soandungan i anon dang diboto dongan salumban.
UMPAMA PINSANG-PINSANG
  1. Siguris lapang ni begu.
  2. Sipansur ni aek nilatong.
  3. Sipultak pura-pura siusehon pargotaan.
  4. Siallang indahan ni begu.
  5. Siallang sian toru ni rere.
  6. Dompak sarupa jolma tundal sarupa begu.
  7. Binarbar simartolu langkop ni panutuan.
  8. Situlluk namardai, sidilati panutuan.
  9. Partiang latong, hau joring parira, partangkula nabara. (Panirisanna pe malala bagasna pe malala.)
  10. Sidegehon papan namungkal, sitangkup ihurni hoda pudi.
  11. Sitahopi api songon ulok dari.
  12. Sitortori na so gondangna.
  13. Sihohari ranggiting.
  14. Bintatar pandidingan, simartolu parhongkomna, sidok hata hagigihan soada hinongkopna.
  15. Sirotahi pangananna.
  16. Poring sitorban dolok, manuk sisudahon.
  17. Sisopsop rentengna.
  18. Sibondut ranggas nagaung-gaung.
  19. Silompa lali nahabang.
  20. Sialap manaruhon.
  21. Sibola hau tindang, sipadugu horbo sabara.
  22. Sipatubi-tubi manuk, pasalpu-salpu onan.
  23. Sitangko bindana.
  24. Sipadomu pardebataan tu parsombaonan.
  25. Siaji pinagaranna.
  26. Soban bulu, dongan musu.
  27. Partungkot mundi-mundi, parsoban hau halak, parroha sibuni-buni pa ago-ago halak.
  28. Siuntei naigar, siasomi na asom, sisirai na ansim.
  29. Tongka dua pungga saparihotan.
  30. Gala-gala naso botohon, muruk pe iba adong do hata nasoboi dohonon.
BURA
1. Unggas jala andalu, bungkas jala mabalu.
2. Datu mangan saputna, raut mangan ompuna.
3. Antuk nabegu soro ulu balang.
UMPAMA APUL-APUL
  1. Bagot namadung-dung tu pilo-pilo marajar, tading ma nalungun roma na jagar.
  2. Porda marungrung mulakma tu songkirna, Horbo manurun mulakna tu barana, hot ma doal di sangkena, pinggan di rangkena.
  3. Amani bogot bagit, amani bagot so balbalon, lungun pe nasai laonna i, tuhirasna tu joloan ni arion.
  4. Sitorop ma bonana sitoropma nang rantingna, ia torop hahana toropma nang anggina.
  5. Sitorop ma bonana sitoropma nang rantingna, torop ma natoropi tu toropma nasopiga.
  6. Mangordang di juma tur, manabur di hauma saba, hea do mauli bulung nang pe anak sasada.
  7. Malos ingkau rata riang-riang pinatapu-tapu, molo manumpak Debata di ginjang naung tungil olo jadi napu.
  8. Naung pardambirbiran, gabe pardantaboan, jolma naung hagigian gabe jadi sihalomoan.
  9. Loja siborok manjalahi guluan, sai mutu do rohani jolma manjalahi hangoluan.
  10. Sai tiurma songon ari, sai rondangma songon bulan, sai dapot najinalahan tarida naniluluan.
  11. Sinepnep mauruk-uruk silanian ma aek toba, nametmet unang marungut-ungut namagodang unang hansit rohana.
  12. Magodang ma aek godang di juluan ni aek raisan, mandao ma ianggo holso sai roma parsaulian.
  13. Niraprap hodong, tinapu salaon, sinok do mata modom, musu unang adong be si jagaon.
  14. Sai tutonggina ma songon tobu, tu assimna songon sira, magodang ma naumetek sai mangomo partiga-tiga.
  15. Sirambe nagodang ma tu sirambe anak-anak, gok ma sopo nabolon maruli sopo si anak-anak.
  16. Pahibul-hibul tiang patingko-tigko galapang, pamok-mok namarniang pabolon-bolon pamatang.
UMPAMA PANIGATI
  1. Nabingkas do botik gaja dibahen botik aili, bingkas si alali dibahen sipinggiri.
  2. Nidanggurhon jarum tu napot-pot ndang di ida mata alai diida roha.
  3. Dirobean pinggol tubu di nahornop pangidai jorbing anak ni mata natingkos na ni idana.
  4. Madung-dung bulu godang tu dangka ni bulu suraton, marunung-unung namaroha molo adong uli buaton.
  5. Diihurpas batu tarida oma, molo adong tuhas uasi (gana) alona.
  6. Binarbar bagot tarida pangkona, nungnga tangkas dapot dihaol tinangkona.
  7. Manuk-manuk hulabu ompan-ompan ni soru, dang pangalangkup jolmai molo di patudu parboru.
  8. Dapot do imbo dibahen suarana, tarida ursa dibahen bogasna.
  9. Sada sanggar rik-rik, padua sanggar lahi, donganna mar mihim-mihim, jala donganna martahi-tahi.
  10. Binarbar rikrik tarida pangko, dos do utang ni parmitmit utang panakko.
  11. Aus nabegu adang namalo.
  12. Manunjang dibalatuk, marboa di tapian.
  13. Nungnga tardege pinggol ni dalan.
  14. Masuak sanggar mapopo hadudu.
  15. Parraut si etek-etek.
  16. Marsanggar-sanggar.
  17. Nirimpu soban hape do bulu, nirippu dongan hape musu.
  18. Sibalik sumpa sipatundal ni begu.
  19. Marbuni-buni tusa di panjaruman. (marbuni hata ditolonan)
  20. Disarat hodongna mangihut lambena, sae gorana, lea rohana di pandena.
  21. Disuru manaek ditaba di toru.
  22. Sarung banua, monsak humaliang bogas, tata natinutungan, marimbulu natinanggoan.
  23. Marurat ni langgumgum, marparbue di pandoran, patampak-tampak hundul pulik-pulik hata ni dohan
PARUHUMAN
  1. Dang tarbahen sasabi manaba hau, dang tarbahen tangke mangarambas.
  2. Timbang ma daon ni natutu, gana daon ni torpa (daho).
  3. Tiris ni hudon tu toru, tiris ni solu do tu ginjang.
  4. Naolo manutung-nutung, naolo mangan sirabun, naolo manangko naolo mangan sirabun.
  5. Disi pege mago disi manutu-nutu.
  6. Disi banggik maneak disi asu martunggu.
  7. Ndang bolas manaputi ia soadong bulung, dang bolas mangarahuti ia soadong tali.
  8. Andalu sangkotan ni bonang. (manggarar ma natalu, siadapari gogo.)
  9. Sisoli-soli uhum, siadapari gogo.
  10. Dongan sotarhilala, musu sohabiaran.
  11. Asa sibarung doho si bontar andora, tung taranggukkon ho so binoto lapang ni gora.
  12. Tu ginjang manjalahi na rumun tu toru manjalahi na tumandol.
  13. Tinallik hodong bahen hait-hait ni palia, tagonan na martondong, sian na marsada ina.
  14. Buruk-buruk ni saong tu aos-aos ni ansuan, molo gabe taon ingkon olo manggarar utang.
  15. Seak-seak borhu madabu tu bonana, tanda ni anak, patureon ni amana.
  16. Si idupan do nauli, si saemon do nahurang.
  17. Ndang suhat be nunga bira, ndang tuhas be nungnga tarida.
  18. Molo adong unsimmu, dada gaol mu mardo, ai molo adong panuhormu, ndada ho pandobo.
  19. Rompu tuju, si dua gumo, molo so malo pangulu dapotan duri.
    Rompu tuju, sidua gumo, molo malo pangulu dapotan uli.
  20. Siuangkap batang buruk, sibarbar na niampolas.
  21. Sada umpaka hite, luhut halak marhitehonsa.
  22. Lulu anak, lulu tano, lulu boru, lulu harajaon.
  23. Simbar dolok sitingko ulu balang, boi tu hasundutan boi tu habinsaran.

Jumat, 25 Maret 2011

Umpama umpasa Batak

Umpama – Umpasa

BEBERAPA UMPAMA BATAK

A. Keterangan pembuka:
1. Jambar, adalah sesuatu yang diterima atau diperoleh seseorang, berdasarkan kedudukannya dalam adat Batak. Dapat dikatakan, “jambar” itu adalah hak pribadi atau suatu kelompok, karena kedudukannya dalam hubungan kekerabatan/adat.
Dalam kehidupan & budaya orang Batak, setidak-tidaknya dikenal lima jenis jambar, yakni: jambar ulos; jambar juhut (daging); jambar hepeng (uang); jambar hata; jambar pasahathon pasu-pasu (untuk memimpin doa dalam suatu acara khusus, sesuai dengan agama/iman kepercayaan kelompok yang menyelenggarakan acara).
2. Kalau ketiga jambar lain relatif tidak menuntut suatu kemampuan/keahlian khusus dari diri seseorang, karena cukup hanya menerima saja (paling-paling hanya perlu mengucapkan terimakasih), dua di antara jambar itu menuntut kemampuan atau kepandaian berbicara di hadapan umum, yakni jambar hata dan penyampaian doa pasu-pasu. Umumnya “jambar hata” dibagikan kepada orang-perseorangan, atau beberapa orang dalam satu kelompok (menurut “horong”: misalnya “horong” hula-hula; boru/bere; ale-ale & dongan sahuta; pemimpin lingkungan; dan menurut “kelompok Ompu,” di kalangan yang berkakak-adik (dongan tubu; kerabat semarga); dsb.
3. Pada dasarnya, penerima jambar hata selalu terdiri dari beberapa orang dalam kelompoknya. Sehingga mereka dapat memilih/menghormati salah satu di antara mereka untuk menyampaikannya (biasanya yang tertua, baik menurut umur maupun menurut kedudukan dalam “tarombo”; kalau memang mampu. Kalau tidak, jambar akan digeserkan kepada yang lebih muda, dsb).
Ada kalanya kelak, orang-orang tua atau yang dituakan dalam kelompok, sudah menjadi sangat langka, atau tidak punya kemampuan menerima kehormatan “jambar hata.” Karena itu, generasi yang lebih muda harus mempelajari atau mempersiapkan diri untuk itu, kalau mereka sadar bahwa adat Batak perlu dilestarikan.
4. Dalam buku ini, kami tidak bermaksud memberikan contoh-contoh bentuk kata-kata (sambutan) yang akan disampaikan oleh seseorang dalam hal memenuhi haknya menerima jambar hata dalam bentuk “prosa”. Hendaknyalah setiap orang mempelajarinya sendiri melalui nalarnya mengamati setiap jenis acara adat yang pernah diikutinya
.
B. Peranan penyampaian umpama (umpasa):
Seperti suku-suku bangsa lainnya di kawasan Nusantara, setidak-tidaknya kalangan suku-suku Melayu, semua sub-etnik dalam suku Batak juga menggunakan pepatah-petitih dalam hal setiap perhelatan adat; bahkan dalam occasion (peristiwa) lain, seperti misalnya kematian, kecelakaan, martandang (menemui dan berbicara dengan gadis-gadis yang diharapkan dapat dipinang), atau hanya untuk sekedar penyampaian nasehat, dlsb.
Karena jambar hata (dalam occasion apapun) seringkali menuntut, atau lebih baik ditutup atau disimpulkan melalui pengucapan umpama (umpasa), maka ada baiknya kami sajikan beberapa di antaranya untuk dikaji/dipelajari oleh generasi muda.
Yang disajikan di bawah hanyalah umpama (umpasa) yang kami anggap sederhana atau paling dasar, merupakan standar yang tidak terlalu sulit digunakan secara umum, dalam berbagai acara (occasion) itu. Kami menyajikan menurut kelompok penggunaannya.
1. Umpama dan tanya-jawab pembuka dalam hal menerima/penyampaian
makanan adat:
Dimulai dengan kata basa-basi (prosa) pembuka dari si penanya, maka perlu disambung dengan:
Asa, danggur-dangur barat ma tongon tu duhut-duhut
Nunga butong hita mangan, mahap marlompan juhut,
Ba haroan ni ulaonta on, dipaboa amanta suhut.
Atau: Ba, dia ma langkatna, dia unokna
Dia ma hatana, dia nidokna,
Haroan ni ulaonta on,
Tung tangkas ma dipaboa amanta suhut
Respons si-pemberi (pembawa) makanan:
Kata basa-basi pembukan (prosa), dan disambung:
Asa bagot na marhalto ma na tubu di robean
Ba horas ma hamu na manganhon, tu gandana ma di hami na mangalean
Ekstra:
Taringot di sipanganon na hupasahat hami rajanami
Molo tung na mangholit hami, sai ganda ma na hinolit tu joloansa on
Dan ditutup dengan:
Anggo sintuhu ni sipanganon masak na hupasahat hami
Ba, panggabean, parhorasan do rajanami (tu hula-hula); tu hamu raja ni haha-anggi
(bila makanan itu untuk kawula yang berkakak-adik)
Sambungan sapaan-pertanyaan dari si penerima makanan:
Dimulai lagi dengan kata basi-basi, dan disambung dengan:
Antong raja ni ……….; Asa tangkas ma uju Purba, tangkasan uju Angkola
Asa tangkas hita maduma, tangkasan hita mamora.
Jadi, asa songon hata ni natua-tua do dohonon:
Siangkup ninna, songon na hundul, jala siudur songon na mardalan
Ba, angkup ni angka na uli na denggan, tung tungkas ma dipaboa amanta suhut,
Asa adong sibegeon ni pinggol, sipeopon ni roha.
Jawaban penutup:
I ma tutu rajanami, nunga apala dipadua hali raja i manungkun
Ba saonari, tung tangkas ma antong paboaonnami:
Anggo siangkupna dohot sidonganna rajanami, ima:……..
(dia ceritakan secara singkat dalam bentuk prosa, maksud tujuan acara adat itu)
2. Umpama dalam berbagai perhelatan, yang memintakan berkat:
a. Perkawinan (kepada penganten)— Biasanya umpama ini harus disampaikan dengan jumlah ganjil; mis: satu, tiga, lima, tujuh dsb. Di zaman modern ini di perantauan (karena soal faktor keterbatasan waktu), terutama bagi generasi muda, boleh saja mengucapkan hanya satu saja. Kalau mampu menghafalnya, boleh sampai tiga umpama:
Contoh:
1) Bintang na rimiris ma, tu ombun na sumorop Asa anak pe antong di hamu riris, boru pe antong torop
2) Tubuan laklak ma, tubuan sikkoru di dolok ni Purbatua Sai tubuan anak, tubuan boru ma hamu, donganmu sarimatua
3) Pir ma pongki, bahul-bahul pansalongan Sai pir ma tondimuna, jala tongtong hamu masihaholongan
4) Pinantik hujur tu jolo ni tapian
Tusi hamu mangalangka, tusi ma dapot parsaulian
5) Pangkat-hotang.Tu dia hamu mangalangka, tusi ma dapot pangomoan
6) Tangki jala hualang, garinggang jala garege
Tubuan anak ma hamu, partahi jala ulubalang
Tubuan boru par-mas jala pareme.
7) Tubu ma hariara, di tonga-tonga ni huta
Sai tubu ma anak dohot borumu
Na mora jala na martua
Kalau “umpama” diucapkan (disampaikan) hanya satu (single) di antara umpama di atas, tak tak perlu ada umpama penutup. Tapi kalau menyampaikan dua atau empat, atau bahkan enam, sebaiknya ditutup dengan umpama pembuat jumlah-ganjil berikut:
Asa, sahat-sahat ni solu ma, sahat tu bontean
Sai sahat ma hita on sude mangolu,
Sahat ma tu parhorasan, sahat tu panggabean.
Bila kita harus menyampaikan ulos pansamot (kepada orangtua penganten laki-laki) atau kepada besan kita: beberapa umpama yang relevan antara lain adalah:
1) Andor halukka ma patogu-togu lombu
Saur ma hamu matua, patogu-togu pahompu
2) Eme sitamba-tua ma parlinggoman ni siborok
Tuhanta Debata do silehon tua, sude ma hita on diparorot
3) Tubu ma dingin-dingin di tonga-tonga ni huta
Saur ma hita madingin, tumangkas hita mamora
4) Sitorop ma dangkana, sitorop rantingna
Sitorop ma nang bulungna
Sai torop ma hahana, torop anggina
Torop ma nang boruna
Umpama di atas, dapat pula dipakai untuk memberikan kata berkat/pasu-pasu kepada pihak lain, termasuk dalam bentuk acara “selamatan” lain-lain; dan tentu saja sebaiknya ditutup dengan ”Sahat-sahat ni solu……dst.”.
b. Tuntunan dari pihak hula-hula kepada pihak boru, karena menerima permintaan bimbingan (paniroion) terhadap pembicaraan pihak-suhut dengan pihak besan-nya:
Lebih dahulu mengucapkan kata basa-basi tuntunan secara “prosa”, dan diakhiri dengan puisi (umpama) berikut:
Asa balintang ma pagabe, tumundalhon sitadoan
Arimuna ma gabe, ai nunga hamu masipaolo-oloan
c. Mangampu (mengucapkan kata sambutan terimaksih) terhadap kata-kata ucapan syukur dari pihak hula-hula, atau pihak lain untuk kita:
Setelah mengucapkan kata-kata mangampu secara “prosa”, maka diakahiri dengan puisi (umpama) berikut:
1). Asa turtu ma ninna anduhur, tio ninna lote
Sude hata na denggan, hata nauli na pinasahatmuna i
Sai unang ma muba, unang ma mose.
2). Tingko ma inggir-inggir, bulungna i rata-rata
Di angka pasu-pasu na nipinasahatmuna, pasauthon ma Tuhanta Debata
3). Asa naung sampulu pitu ma, jumadi sampulu-alu
Sude hata na uli na pinsahatmunai, ampuonnami ma i martonga ni jabu.
d. Umpama oleh Raja-parhata dari pihak parboru dalam hal mengucapkan dan akan membagi uang ingot-ingot” (setelah menerima porsi dari pihak paranak untuk digabungkan):
Nunga jumpang tali-aksa ihot ni ogung oloan
Nunga sidung sude hata, ala tangkas do hita masipaolo-oloan
Bulung ni losa ma tu bulung ni indot
Bulung motung mardua rupa,
Sude na tahatai i ingkon taingot
Asa unang adong hita na lupa ….; Ingot-ingot; ingot-ingot; ingot-ingot.
e. Umpana dalam waktu menutup pembicaraan dalam pesta-kawin: dengan cara membagi uang “Olop-olop,” oleh Raja-parhata fihak parboru, setelah menerima porsi uang olop-olop dari fihak paranak untuk digabungkan:
Asa binanga ni Sihombing ma binongkak ni Tarabunga
Tu sanggar ma amporik, to lombang ma satua
Sinur ma na pinahan, jala gabe na niula
Simbur magodang angka dakdanak songon ulluson pura-pura
Hipas angka na magodang tu pengpengna laho matua
Horas pardalan-dalan, mangomo nang partiga-tiga
Manumpak ma Tuhanta dihorasi hita saluhutna,…
Asa aek siuruk-uruk, ma tu silanlan aek Toba
Na metmet soadong marungut-ungut, na magodang sude marlas ni roha…
Olop-olop; olop-olop; olop-olop.
f. Dukacita: Hanya dalam keadaan duka-cita yang mendalam, karena kematian di luar bentuk “saur-matua” (terkadang juga di luar “sarimatua”):
Setelah mengucapkan kata-kata penghiburan dalam bentuk prosa; maka ditutup dengan puisi (umpama):
Asa songon hata ni umpama ma dohononku:
Bagot na madungdung ma, tu pilo-pilo na marajar
Sai salpu ma angka na lungun, sai ro ma angka na jagar.
Atau: Hotang binebebe, hotang pinulos-pulos
Unang hamu mandele, ai godang do tudos-tudos.
g. Nasehat: untuk yang tak mungkin menikmati/memperoleh lagi sesuatu seperti di masa lalu:
Ndang tardanggur be na gaung di dolok ni Sipakpahi
Ndang haulahan be na dung, songon sibokka siapari.

Poda Nauli sian natua tua

PODA NA ULI

  1. Pantun hangoluan tois hamagoan.
  2. Seang do tarup ijuk soada langge panoloti, seang do sipaingot so adong na mangoloi.
  3. Unang marhandang na buruk, unang adong solotan sogot, unang marhata na juruk unang adong solsolan marsogot.
  4. Tinallik dulang tampak dohot aekna. Pinungka hata (ulaon) unang langlang di tagetna.
  5. Unang sinuan padang di ombur-ombur, unang sinuan hata nagabe humondur-hondur.
  6. Anduhur pidong jau sitangko jarum pidong muara, gogo sibahen na butong tua sibahen na mamora, roha unang soada.
  7. Aek dalan ni solu sian tur dalan ni hoda, gogo mambahen butong, tua sibahen mamora.
  8. Anduhur pidong toba siruba-ruba pidong harangan, halak na losok mangula jadian rapar mangan
  9. Anduhur pidong toba siruba-ruba pidong harangan, halak na padot mangula ido na bosur mangan.
  10. Singke di ulaon sipasing di baboan, tigor hau tanggurung burju pinaboan-boan.
  11. Pauk ni Aritonang pauk laho mangula, burju pinaboan-boan dongan sarimatua.
  12. Hotang-hotang sodohon ansimun sibolaon, hata-hata sodohonon sitongka paboaboaon.
  13. Handang niaithon na dsua gabe sada, niantan pargaiton unang i dalan bada.
  14. Hori sada hulhulan bonang sada simbohan, tangkas ma sinungkun nanget masipadohan.
  15. Ijuk di para-para hotang di parlabian, na bisuk nampuna hata na oto tu pargadisan.
  16. Hotang do paninaran hadang-hadangan pansalongan.
  17. Bogas ni Gaja Toba tiur do di jolo rundut do di pudi , bogas ni Raja Toba tiur do di jolo tota dohot di pudi.
  18. Dang sibahenon dangka-dangka dupang-dupang, dang sibahenon hata margarar utang.
  19. Sinuan bulu di parbantoan dang marganda utang molo pintor binahonan.
  20. Sinuan bulu di parbantoan sai marganda do utang na so binahonan.
  21. Niduda bangkudu sada-sada tapongan, sai marganda lompit do utang ia so jalo-jalo binahonan.
  22. Manggual sitindaon mangan hoda sigapiton, tu jolo nilangkahon tu pudi sinarihon.
  23. Langkitang gabe hapur, nahinilang gabe mambur.
  24. Molo duri sinuan duri ma dapoton. Ia bunga sinuan bunga ma dapoton, ia naroa sinuan naroa ma dapoton.
  25. Jolo marjabu bale-bale asa marjabu sopo, jolo sian na tunggane asa tu naumposo molo makkuling natunggane manangi ma naumposo.
  26. Ingkon manat marpiu tali, ingkon pande marjalin bubu, ingkon manat mangula tahi, ingkon pande mangula uhum.
  27. Masihurha manukna unang teal buriranna, masiajar boruna unang suda napuranna.
  28. Tuit sitara tuit tuit pangalahona, natuit anak i mago horbona, molo natuit boru mago ibotona.
  29. Siala il siala ilio, utang juma disingir di halak namalo, singir jadi utang di halak na so malo.
  30. Magodang aek bila, ditondong aek hualu, mago sideak bibir dibahen pangalualu.
  31. Santopap bohi sanjongkal andora, ndang diida mata alai diida roha.
  32. Anduhur pidong jau sitapi-tapi pidong toba, binuat roha jau pinarroha roha toba.
  33. Gala-gala nasa botohon , manang beha pe laga adong do hata naso boi dohonon.
  34. Pir eme di lobongan ndang guguton, uli pe paniaran ni dongan ndang langkupon.
  35. Ndang tuk-tuhan batu dakdahan simbora, ndang tuturan datu ajaran na marroha.
  36. Songon parsege-sege so seang, sapala seang, seang dohot bota-botana.
  37. Naihumarojor bola hudonna, naihumalaput tata indahanna.
  38. Pege sangkarimpang halas sahadang-hadangan, rap mangangkat tu ginjang, rap manimbung tutoru halak namarsapanganan.
  39. Tinutu gambiri angkup ni sera-sera, pinatonggor panaili, unang hu roha ni deba.
  40. Unang songon parmahan ni sunggapa, dihuta horbona dibalian batahina, mago dibahen rohana pidom dibahen tondina.
  41. Sitapi uruk sitapi dibalunde, tu dolok pe uruk tu toruan tong ene, ai aha so uruk sai jalo do pinaune-une.
  42. Sinintak hotor-hotor, humutur halak-halak asing do timbang dongan asing timbang halak.
  43. Mimbar tungkap ni tuak, mimbar do nang daina, muba laut, muba do ugarina.
    Muba dolok, muba duhutna, muba luat muba do uhumna.
  44. Manghuling bortung di topi ni binanga, adong do songon ogung sipatudu luhana.
  45. Rigat-rigat ni tangan ndang laos rigathonon, rigat-rigat ni hata ndang laos ihuthononton.
  46. Talaktak siugari, ibana mambahen, ibana mamburbari .
  47. Hauma sitonang panjangkitan ni langkitang, sai pidom do jolma na olo marhilang.
  48. Ndang tarhindat gaor-gaor ni hudon, ndang tarsoluk harajaon hasuhuton.
  49. Tanduk ni ursa mardangka-dangka suhut di hasuhutonna raja marhata-hata.
  50. Tanduk ni ursa margulu-gulu salohot benge. (na so dohot pe diboto aha namasa)
  51. Pansur tandiang di rura ni aek puli, na pantun marroha/marina ido tiruan nauli.
  52. Martaguak manuk di toruni bara ruma, napantun marnatoras, ido halak namartua.
  53. Habang ambaroba paihut-ihut rura, sapala naung ni dohan, unang pinauba-uba.
  54. Pasuda-suda arang so himpal bosi. (patua-tua daging pasuda-suda gogo.)
  55. Holi-holi sangkalia, sai marhormat do langkani ama mida tangan ni ina.
  56. Masuak ranggas di degehon Sinambela, molo tung i nama dibuat nasoala, nanggo torang diboto deba.
  57. Bosi marihur tinopa ni anak lahi, matana tinallikkon tundunma mangonai
  58. Dipangasahon suhulna do matana, dipangasahan matana do suhulna.
  59. Ndang dao tubis sian bonana.
  60. Pitu hali taripar di aek parsalinan, laos so muba do bolang ni babiat.
  61. Somalna do peamna.
  62. Hapalna mattat dok-dokna, dok-dokna mattat hapalna.
  63. Unang martata ilik sada robean.
  64. Gala gumal bulu andalu sangkotan ni bonang, asa monang maralohon musu, pinatalu roha maralohon dongan.
  65. Garang-garang ni luatan nionjat tu harang ni hoda, molo marbada hula-hula, boruna mandabu tola. Molo marbada boru, hula-hula mandabu tola. Molo marbada anggi, hahana mandabu tola.
  66. Unang patubi-tubi manuk pasalpu-salpu onan.
  67. Unang dua hali tu aek natua-tua.
  68. Hotang hotang sodohon ansimun sobolaon. Hata-hata sodohonon tongka sipaboa-boanan, guru ni hata naso dohonon, guru ni juhut naso seaton.

Hata Andung

HATA ANDUNG
Hata ni andung : Ia mula ni hata andung sian Tuan Sori Mangaraja do i. Alai ido mula ni dungdang, mula ni hata-hata, mula ni saem, parguri-guri si jonggi, parmual sitio-tio, parsagu-sagu nadua sada hundulan, parmombang napitu, nagaram di panggaraman nagurum di pangguruman, natangkas dihata-hata nasungkun di undang-undang. Raja urat ni ubi, raja tiang ni tano nasungsang parmonangan horbo paung ni portibi, natumombang tano Balige. Balige Raja, Balige marpindan-pindan, hamatean ni Niro. Mula ni andung I MINANGSIHON, ima nalaho ibana taripar lautan tu tano Batang Toru mangalului partondung laho manungkun Debata Mulajadi, ala logo ari hatihai, pitu taon lelengna di Toba nabalau.
Songon i muse di namamulung ibana nasa goar ni pulung-pulungan tu tombak, na gabe miak ni parsibasoan, suang i muse nalao ibana tu tano Mandailing, masi ate-ate ni bosi pusu-pusu ni bosi, nagabe surik ni sibaso nabolon i, ima piso solam debata dohot hujur siringis ima nataripar tu si Raja Oloan sian Sibagot Ni Pohan. 

HATA NI ANDUNG .-
  1. Simanjujung : Ulu
  2. Sitarupon : Obuk
  3. Sipareon Pinggol
  4. Simalolong : Mata.
  5. Silumandit : Igung.
  6. Simangkudap : Pamangan.
  7. Gugut : Ipon.
  8. Simangido : Tangan.
  9. Siubeon : Butuha.
  10. Simanjojak : Pat.
  11. Sirimpuron : Jari-jari.
  12. Simatombom : Botohon dohot hae-hae.
  13. Among parsinuan : Amana parsinuan.
  14. Inong namangintubu : Inong niba.
  15. Ama namartunas : Ama paidua.
  16. Inong namartunas : Inong paidua.
  17. Sisumbaon : Pahompu.
  18. Ompung sisombaon : Ompung.
  19. Tulang/Ibebere : Sibijaon.
  20. Silansapon : Lae/Eda.
  21. Sinumbane : Namboru/paraman.
  22. Nabinalos : Simatua/Hela/Parumaen.
  23. Situriak : Panghataion.
  24. Simanangi : Parbinegean.
  25. Simalongkon : Parnidaan.
  26. Silumallan : Ilu/aek.
  27. Sitipahon : Ulos.
  28. Sitabean : Tujung.
  29. Sigumorsing : Mas.
  30. Sihumisik : Ringgit.
  31. Paiogom : Indahan/Parbue/Eme.
  32. Bona ni paigon : Bona ni eme.
  33. Sidumuhut : Duhut.
  34. Tongani lobangon : Hauma.
  35. Sibonggaran : Bonggaran.
  36. Silumantahon : Horbo.
  37. Silomlom ni robean : Lombu.
  38. Sijambe ihur : Hoda.
  39. Bulung ni lopian : Biru-biru.
  40. Siteuon : Biang.
  41. Simarhurup : Manuk.
  42. Tongani asean : Jabu bale-bale.
  43. Siatukolan : Jabu sopo.
  44. Siagalangon : Jabu ruma.
  45. Bulu situlison : Jabu ruang tano.
  46. Siruminsir : Solu, Kapal, Motor.
  47. Silogo-logo : Kapal terbang.
  48. Silali piuan : Iaher.
  49. Sihais mira : Kapal pemburu.
  50. Sibanua rea : Mariam, tomong.
  51. Sitengger dibanua : Bodil.
  52. Sijambe jalang : Roket.
  53. Simaninggal dipea : Bom.
  54. Sigargar dolok : Bom atom.
  55. Babiat dipittu : Anak na begu.
  56. Gompul dialaman : Raja.
  57. Parjaga-jaga dibibir pustaha ditoloan : Pamollung.
  58. Holi-holi so mansandi parjari-jari so mansohot : Tungkang.
  59. Gokkonon botari alapan manogot : Datu/Raja/Tukkang.
  60. Toru ni situmalin : Kuburan.
  61. Bona ni ubeon : Buha baju.
  62. Punsu ni ubeon : Siampudan.
  63. Goar soltpe : Panggoaran.
  64. Hau sinaiton : Hau/Btng ni namate/ranting.
  65. Silumambe hodong : Bagot.
  66. Papan narumimbas : Papan ni jabu.
  67. Rindang sibalunon : Amak.
  68. Dolok simanabun : Dolok.
  69. Langit ni sihadaoan : Taripar laut.
  70. Urat naibongkion : Dengke.
  71. Juhut tinanggoan : Juhut.
  72. Sirumantos : Raut, Hujur,giringan.
  73. Natoga bulung : Naung tubu.
  74. Didadang ari diullus alogo : Dihasiangon.
  75. Sirumata bulung : Napuran.
  76. Silumambe hodong : Saga-saga.
  77. Sirumonggur : Ronggur.
  78. Lombang simanamun : Lombang.
  79. Suga nasomarpatudu : Honas todos naso marsala.
  80. Godung naso marhinambor : Nasomarala.
  81. Mansitairon : Manarus.
  82. Songon tungko nisolu ganup ni panabian : Leleng marsahit.
  83. Mangganupi siarianan, mangganupi sihabornginan : Leleng dipauli.
  84. Hatipulan simanjujung, haponggolan simanjojak : Ina namabalu.
  85. Hatompasan tataring : Ama namabalu.
  86. Mapurpur tuangin nahabang tu alogo : Naso marrindang.
  87. Naso martunas : Naso maranak.
  88. Siparumpak balatuk soadong pajongjongkon : Napurpur
    sisapsap bahal dang adong namangungkap
  89. Marsada-sada bulung songon halak nalungun- : Sisada-sada/sada sabutuha lungunan tandiang nahapuloan
  90. Sibane-bane lili so sumungkar : Nalambok.
  91. Silumaksa ijur : Uta uta ni tohuk, sira.
  92. Mangungkit sibonggaron : Pabalik uma.
  93. Mambuat sidumuhut : Marbabo.
  94. Sipatuduhon luha sipapatar pangea, tanduk mambu : Nungga gok harorangon nubu surat manjoloani, sotampil sipasingot soboi siajaron.
  95. Sanjongkal bulu dua dopaan tolong, poga-poga : Sian etek nahansit diulu pinagodang ni sidangolan
  96. Namardingdinghon dolok namarhorihorihon : Taripar dolok simanamun ombun dilangit sihadaoan Taripar tao silumallan.
  97. Lombu-lombu nabidang tula-tula ni hapal, : Tarhirim ibana.
    tungkot dinalandit huat-huat dinagolap
  98. Hais tujolo tandak tupudi, lombu panguge : Dipajolo anangkonna
    horbo panampar

Umpama,Umpasa, falsafah Batak

PENGERTIAN UMPASA, UMPAMA DAN FALSAFAH |BATAK TOBA
Artikel ini saya ambil dari beberapa website yang saya rangkum dan merevisinya kembali, tetapi saya lupa nama website dan pemilik artikel ini. Saya minta maaf apabila anda merasa pemilik artikel ini, bukan maksud mengcopy atau membajak artikel anda. Maksud dan tujuan saya untuk mempublikasikan artikel tersebut adalah untuk belajar dan membagikan artikel ini kepada yang membutuhkan khususnya orang batak karena saya merasa sebagai orang batak artikel ini cocok untuk dipublikasikan.
Berikut adalah beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang UMPASA, UMPAMA, DAN FALSAFAH.
1. Umpasa / Pantun
Bahasa batak : Ima songon Pantun (Hata Parjolo Patorangkon Hata Parpudi) alai sasintongna hata pasu-pasu doi songon tangiang asa pasauton ni Amanta Debata, ai ganup namanghatahon Umpasa (pasu-pasu) ingkon tongtong do diakui dibagasan rohana na Debata do silehon pasu-pasu.
Bahasa Indonesia : adalah sejenis Pantun (Kalimat Pertama menerangkan Kalimat Terakhir), tetapi sebenarnya sama saja dengan doa berkat supaya diberkati Tuhan Allah, semua orang yang mengatakan Pantun harus mengakui didalam hatinya bahwa Tuhanlah yang memberikan Berkat.

2. Umpama / Pepatah
Bahasa Batak : Ima hata tudosan hampir mirip tu Falsafah ni natua-tua. Molo mandok umpama, unang hata (isi) ni Umpasa didok jala sebalikna molo mandok Umpasa unang ma hatani Umpama didok, asa taparrohahon ma I molo mandok Umpama manang Umpasa.
Bahasa Indonesia : Adalah Kalimat Persamaan yang hampir mirip ke Falsafah orang Tua. Kalau Mengatakan Pepatah Jangan Kalimat (Isi) dari Pantun yang di katakan dan sebaliknya jika mengatakan Pantun janganlah kalimat Pepatah yang di katakan, biar kita perhatikan kalau mengatakan Pepatah atau Pantun.
3. Falsafah
Bahasa Batak : falsafah ni natua-tua ima songon tudosan alai godangan doi hasil ni angka pengalaman natua-tua najolo naboi gabe poda tarlumobi tu angka naumposo.
Bahasa Indonesia : falsafah orang tua adalah seperti persamaan tetapi kebanyakan dari pengalaman orang tua jaman dahulu yang bisa menjadi nasehat khususnya kepada orang muda.
Berikut contoh Keterangan diatas yang mungkin kita sering mendengar supaya kita bisa mengkategorikan kalimat tersebut :

1. Umpasa
Bintang Ma Narumirus tu ombun Nasumorop, Anak pe Riris boro pe torop.
Tubu ma hariara diholang-holang ni huta, dakkanai tanggo pinarait-aithon
Tubu ma dihamu anak na marsahala dohot boru namartua, sitongka panahit-nahiton

Turtu ma ninna anduhur Tio ma ninna Lote,
Hata nauli nadenggan naung dipasahat hamu sai unang ma muba uanang mose.
Si titik ma si gompa Golang golang pangarahutna
Tung songon on pe sipangonon na tupa dijolonta on sai godang ma pinasuna.
Jolo tinittip sanggar umbahen huru-huruan
jolo sinungkun marga asa binoto partuturan.
Napuran Tano-tano Ranggiang marsiranggongan
Tung pe badanta padao-dao Tondinta ma marsigomgoman.
Tubu ma halosi di dolok ni Pintu Batu
Hami do na mangulosi Debata ma na mamasu-masu.
Sahat-sahat ni soluma Sai sahat ma tu bontean
Nunga sahat hita mangolu sai sahat ma tupanggabean.

2. Umpama
Hotang binebe-bebe hotang nipulos-pulos
Unang hamu mandele ai godang do tudos-tudos.
Dangka do dupang Amak do rere
Ama do tulang, Anak do Nang Ibebere
Sinuan bulu sibahen nalas
Sinuan uhum sibahen nahoras.
Manuk ni pealangge hotek-hotek laho marpira
sirang marale-ale lobian namatean ina.
Pago-pago taruge pauk-pauk hudali
angka nasala pinauli angka na denggan niulahi.
3. Falsafah
    1. Dijalo raja sieahan, dipudi raja sipaimaon (Hormatan do Natua-tua dohot angka Raja)
    2. Sada silompa gadong dua silompa ubi, sadape namanghatahon Sudema dapotan Uli.
    3. Pitu batu martindi sado do sitaon nadokdok (Unang Maharap hu tu dongan)
    4. Jujur do mula ni bada, bolus do mula ni dame (Unang sai jujur-jujuri salani dongan, alai bolushon ma).
    5. Siboru buas siboru Bakkara, molo dung puas sae soada mara (Dame Ma).
    6. Sungkunon Poda natua-tua, sungkunon gogo naumposo (Bertanggung Jawab).
    7. Tolu do dalihan, Paopat sihal-sihal, Torop pe anakniba, Sada do siboto sibunian. (torop pe ianakhon ni natua tua na,alai holan sada do umboto sibunian ni natorasna)
    8. Dolok Martimbang, Hatubuan ni simarhora-hora, Di Debata na di ginjang, Do suhat-suhat ni hita jolma. (Debata na di ginjang do umboto hita jolma)
    9. Sitorop ma dangkana, Sitorop ma bulungna, Gabe ma hula-hulana, Songon i ma nang boruna. (Angka pangidoan sai anggiat gabe hula-hula dohot boru na).
    10. Dapot ursa dibahen bogasna, Dapot imbo dibahen soarana. (tanda on jolma sian pangalaho na).
    11. Ngali aek diingani dengke, Dolgi ranggas diingani bodat. (manang boha pe luat i, sai sonang do pangisi na mangingani)
    12. Tampuk ni sibaganding di dolok ni pangiringan horas ma hamu na marhaha maranggi molo sai masipairing-iringan (sai horas do hita angka na marhahamaranggi molo hita saling masitoguan)
Demikianlah sedikit informasi yang saya dapatkan dan yang bisa saya bagikan untuk kita semua yang ingin mengenal Pantun, Pepatah dan Falsafah orang Batak. Saya adalah orang biasa yang tidak luput dari kesalahan, jika ada kata-kata atau kalimat yang tidak berkenan di hati anda, silahkan kirimkan kritik dan saran anda ke halaman kontak demi kemajuan website ini.